LIVE IT!

tidbits of my life

Me Time : Ragusa – Istiqlal – Kathedral – Kelapa Gading

Akhir minggu ini, saya memang tidak punya rencana khusus untuk weekend. Harusnya si main bersama teman-teman kantor ke Waterboom PIK, tapi karena hidung mulai mampet dan badan terasa ngga enak, rencana itu dipending dulu. Jadilah saya mulai Jumat malam memikir-mikirkan mau ngapain weekend ini. Tidur-tiduran is so tempting, but i can’t bear the guilt in Sunday night if I only spend my weekend on the bed -___-

Setelah menggalau beberapa waktu, akhirnya saya memutuskan untuk menghabiskan some ‘me time’ main-main di seputaran kota Jakarta. Udah setahun hidup di Jakarta, tapi rasanya tempat yang saya kunjungi masih itu-itu saja. Setelah googling-googling dan tanya sana-sini. Saya putuskan untuk main ke Es Krim Ragusa dan sekitarnya. Selain jalannya (nampak) ngga begitu susah, saya emang suka es krim. Bahkan di saat lagi flu 😀

Saya berangkat dari kosan sekitar pukul 1 siang. Panas? Banget. Wah, makin asik nih makan es krimnya, pikir saya. Tidak lupa untuk menambahkan kenikmatan makan es krim, saya pergi dengan mengenakan jaket. Makin terasa panasnyaaaa. Pengen cepat sampai deh. Es krim Ragusa terletak di Jln. Veteran.. dekat-dekat Harmoni sana. Saya perlu naik angkot 2 kali untuk mencapai halte busway Pulomas. Dengan berbekal sms dari seorang teman, saya turun di Halte Juanda. Dari situ, saya mulai bingung.. entah petunjuknya yang emang ambigu atau emang saya yang dodol kalo udah menyangkut arah dan kiri-kanan. Sepertinya si kemungkinan kedua 😐

Setengah jam saya habiskan mondar-mandir. Nyebrang ke kiri, jalan, terus ragu di tengah jalan, nyebrang lagi, jalan lagi, balik lagi.. OMG. Kenapa orang-orang di internet bilang jalannya gampang yaaaah?? Or is it only me?? Malu bertanya sesat di jalan, habis gelap terbitlah terang. Setelah bolak-balik di situ karena malu buat nanya, akhirnya ketemu juga tempatnya! Dan ternyata tempatnya udah saya lewatin. ZzZZzZZ.

Es Krim Italia Ragusa

Ketika saya sampai, bertepatan dengan sebuah keluarga yang meninggalkan meja. Jadilah saya dapat tempat duduk tanpa harus mengantri. I have to say that the service is not so good. Maybe because it still run by family and they seemed not really understand about value of customers. Perlu menunggu cukup lama untuk menunggu meja dibersihkan, kemudian ditawari menu, dan lain-lain. Well, it’s just okay since I don’t expect too much about that. Setelah melihat-lihat menu, saya putuskan untuk memesan es krim berjudul Cassata Siciliana. Warna-warninya tampak menarik dan sepertinya banyak orang yang juga memesan. One of the clue for ordering, from my friend, is the most expensive couldn’t be the most delicious. Harga yang ditawarkan berkisar antara 12.000-27.000.

Cassata siciliana

Pertama kali makan es krimnya.. mmmm, terasa segar. Jangan berharap rasanya akan sama dengan Haagendaaz atau BnR. Rasa es krimnya lebih klasik.. benar-benar kerasa homemade. Like it! Rahasianya adalah mereka benar-benar menggunakan bahan-bahan alami dan tanpa bahan pengawet. Teksturnya mirip es puter, tapi dengan rasa yang lebih western.

Karena saya tinggal di Kelapa Gading, yang butuh waktu sejam untuk sampai ke daerah ini, maka rasanya syaang sekali kalau langsung pulang. Puas dengan es krim, saya beranjak dari tempat itu untuk kemudian berjalan-jalan ke Mesjid Istiqlal. Mesjid Istiqlal letaknya tepat di sebelah jalan tempat Ragusa. Dari luar, mesjid ini terlihat besaaar sekali dan begitu masuk ke dalamnya, memang benar. Saya melepaskan alas kaaki dan masuk ke dalam. Kebanyakan orang masuk ke dalam untuk sholat, sehingga saya mengikuti mereka dari beakang agar tidak terlihat awkward. And then I just sit there, on the sajadah. Lookin over tha mosque and feels like it’s one of the most peaceful spot in Jakarta. Beberapa orang terlihat khusuk memanjatkan doa, ada pula yang bercandatawa dengan keluarganya, atau sekedar berbaring melepas kepenatan di dalamnya.

di dalam Istiqlal

pelataran

ka’bah kecil-kecilan

Saat akan mengambil titipan alas kaki, saya berpapasan dengan seorang turis asing dari Cina. Khusus untuk turis asing, diharuskan untuk mendaftar terlebih dahulu, dan sepertinya ada pungutan tertentu yang dikenakan. Hal ini juga saya temui di Yogyakarta kemarin, di mana turis asing dikenakan biaya khusus yang relatif lebih mahal. Kasian juga yah.

Setelah dari Istiqlal, saya melanjutkan perjalanan ke Kathedral yang berada di depannya. Bangunan megah itu terlihat begitu kokoh, mirip seperti gereja-gereja yang ada di luar negeri. Cukup banyak juga orang-orang yang datang ke gereja itu untuk sekedar berfoto atau melihat-lihat. Memang bangunannya keren. Kalau bisa nikah di sini kayaknya keren abiss :p

Kathedral Perawan Maria Diangkat ke Surga Jakarta

inside Kathedral

Berjalan-jalan sekitar 3 jam membuat kaki saya mulai terasa lelah. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore: time to back to Gading! Saya pun mulai mencari halte busway terdekat, tapi kembali karena diorientasi arah, saya harus berjalan cukup jauh memutari Kathedral. ZzZZzzz. Yah,akhirnya sampai juga. Menunggu sebentar di Harmoni, saya kemudian menuju ke halte Pulomas. Seperti yang diperkirakan, bundaran La Piazza yang harus saya lewati untuk kembali ke rumah, tidak bisa dilewati karena ada karnaval Jakarta Food and Fashion Festival. Acara ini diadakan tiap tahun di MKG, tapi tahun lalu saya tidak sempat menyaksikan pembukaannya. Padahal udah niat pulang.. apa boleh buat jadilah saya nonton dulu 😀

sore menjelang

Karnaval JFFF

Di tengah asiknya nonton peragaan karnaval, saya mendengar adanya keributan di dekat jempatan penyeberangan. Jembatan itu sedari tadi memang dijaga oleh petugas agar tidak ada orang yang melaluinya. Keributan disebabkan karena petugas mengijinkan beberapa turis asing naik, yang kemudian dilihat oleh warga sekitar dan memicu kemarahan mereka. Yah, turis asing memang selalu diperlakukan ‘khusus’ yah di negara kita. Entah itu khusus secara positif maupun negatif. Sedih juga si melihat ketidakadilan macam ini terjadi di depan mata. Ah, mungkin ini memang hal kecil, tapi membuat saya mengingat betapa sulitnya untuk menegakkan keadilan di Indonesia ini. Kerusakan yang sudah sistemik ini sulit sekali untuk dibenahi: dari atas hingga ke bawah udah ngaco. Jadi teringat sebuah artikel yang pernah rame di twiiter yang judulnya “Saya Takut Hidup di Jakarta”. Jakarta oh Jakarta, kamu memang seperti bunga mawar. Menawarkan sejuta pesona, tapi juga menusuk dengan ironimu.

What an energising weekend. Nantikan petualangan saya berikutnya di kota Jakarta!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 15, 2012 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: