LIVE IT!

tidbits of my life

Dear Jakarta

Dear Jakarta, saya tahu kamu itu memang kota besar. Kota metropolitan, kata orang. Tapi, ini masih Indonesia. Ya, Indonesia, yang katanya orang-orangnya ramah tamah dan sopan santun. Apakah semuanya itu sudah hilang ditelan oleh kerasnya kehidupanmu?

Malam itu pukul 9 malam, saya menumpang busway dari Harmoni menuju ke Pulogadung. Seperti biasa, pada saat akan berjalan busway pasti menimbulkan sedikit ‘goncangan’. Sayangnya, goncangan di malam itu menyebabkan meletusnya pertengakarn sengit di antara dua wanita di dalam busway saya. Seorang wanita paruh baya marah karena merasa didorong oleh seorang wanita muda lain yang berdiri di sampingnya. Entahkah karena merasa tersinggung ataukah memang sudah merasa lelah setelah seharian bekerja, si wanita muda pun marah dan membalas balik si ibu. “Kalau ngga mau dorong-dorongan, naik taksi aja sana! Harusnya lo yang minta maaf ke gue!” hardiknya dengan cukup keras hingga semua mata tertuju pada mereka. Adu mulut yang cukup sengit pun terjadi. Tidak ada yang mau mengalah hingga sopir busway pun memutar musik backsound musik dangdut kencang-kencang sebagai upaya untuk melerai pertengkaran. Di akhir pertengkaran, si wanita muda pun mendengus kasar, “M*nyet lo ah!”.

Saya merasa risih—mungkin memang si ibu yang salah, mungkin memang si gadis sudah sangat lelah, tapi tidak seharusnya kata-kata kasar macam itu ditujukan padanya. Memang tidak sepantasnya kata-kata seperti itu dikeluarkan, apalagi dari penampilannya kelihatannya si wanita muda itu cukup berpendidikan. Ketika awal saya masuk kuliah, saya juga cukup risih dengan kata-kata yang bernada kasar seperti itu. Kemudian saya menemukan bahwa sebagian orang merasa dirinya keren, gaul, dan modern dengan mengucapkan kata-kata kasar beraroma kebun binatang itu, tidak hanya ketika marah atau tersulut emosi, tapi juga pada saat bercanda dengan teman-temannya. Terlebih lagi di sini, rimba besi Jakarta. Dari kenek angkot sampai eksekutif-eksekutif muda sudah terlatih mengeja nama-nama binatang. Dan memang sangat-sangat mudah untuk terbawa, tanpa disadari, untuk mengikuti kebiasaan itu. Saya ingat, ketika di Bandung berjumpa dengan seorang bule di sebuah angkot. Kami ngobrol sebentar, dan kemudian dia bertanya kepada saya, “How come Indonesian called each other as animals? I think that is happened only in western country, you know..”.

Cetarrr. Saya pun tahu harus berkata apa-apa. Mungkin memang kita merasa kalau orang-orang sekitar mengerti maksud kita yang hanya bercanda. Atau mungkin memang bahasa-bahasa kasar seperti itu sudah menjadi bagian dari pergaulan kita. Mungkin ada yang berpendapat saya munafik—buat apa kata-kata halus dan rupawan tapi di dalamnya bobrok? Yes, yes. Tapi, bukankah kendi yang bagian dalamnya bersih seharusnya mengeluarkan air yang bersih juga? Apa salahnya berubah? Pastinya ngga mau kan kalau nanti anak-anak kita mengucapkan kata-kata kasar seakan itu sudah menjadi budaya kita? Jakarta adalah ibu kota, yang sering dianggap mencerminkan satu negara ini. Jangan biarkan budaya bertutur kita yang terkenal ramah tamah dan sopan santun itu hilang begitu saja. Semoga pendidikan dan pengalaman orang-orang di Jakarta yang katanya sudah mumpuni itu bisa juga tercermin dari tutur katanya. Amiiiin 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 25, 2012 by in My life and tagged , , , .
%d bloggers like this: