LIVE IT!

tidbits of my life

A Memory from Ujung Genteng

Perjalalan panjang ini terjadi hampir setahun yang lalu, tepatnya di bulan Oktober. Ketika itu, kami berencana menghadiri pernikahan salah satu temen kami, Ochi, di Bandung. Akan tetapi, kami berencana untuk mampir ke Ujung Genteng terlebih dahulu. Awww.. Ujung Genteng!

Jadilah kami berangkat subuh dengan mobil si Bos. Seperti biasa, Austin menemani Bos mengemudi, dan saya dengan MT-nya (MT = makan temen) tidur di belakang. Oh, ini memang penyakit saya. Suka tidur kalau udah di mobil. Bahkan saya bisa tidur sembari menemani orang yang sedang mengemudi 😀

Kelapa Gading – Ujung Genteng

Dengan mengandalkan google maps, kamipun ‘berlayar’ ke sana. Bos dan Austin punya kemampuan navigasi yang cukup tinggi, jadi saya tenang-tenang saja. Tapiiii.. satu pelajaran yang dapat dipetik adalah jangan mengandalkan google maps sepenuhnya! Waktu itu kami sudah menyusuri jalan setapak berdasarkan perintah google maps, dan kemudian hampir di ujung jalan kami tahu kalau jalan itu tak bisa dilalui mobil. What the.. mana jalannya susah dan lewatin jembatan pengancam nyawa pula K

Yah, finally kami sampai juga di Ujung Genteng kira-kira pukul 12 siang. Ah leganyaaa..Padahal saya cma mengMT karena tidur di sepanjang jalan. Hehehehe. Kami makan siang dulu dengan nasi goreng homemade di tepi pantai sembari bertanya mengenai tempat wisata yang bagus. Ternyata, kami dapat menyaksikan pelepasan tukik pada sata matahari tenggelam. Sembari menunggu matahari terbenam, kamipun bermain-main di tepi pantai. Tidur-tiduran sambil menikmati air kelapa. Aih, nikmatnyaaa.

Menjelang matahari tenggelam, kamipun pergi ke tempat penangkaran tukik. Tempatnya tidak begitu jauh dari pantai tempat kami bermain. Sesampainya di sana, sudah ada beberapa orang yang juga menantikan pelepasan tukik ini. Pantai tempat pelepasan tukik ini.. luar biasa! Dengan pasir kuning yang lembut, rasanya ingin terus menjejakkan kaki di pantai ini.

Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Tukik-tukik dibawa ke dekat pantai dan diberikan kepada pengunjung untuk dapat dilepaskan ke tengah lautan. Dari ratusan bahkan ribuan tukik yang dilepaskan ini, hanya sedikit sekali yang bisa bertahan hidup hingga dewasa. Sedih deh membayangkan kalau makhluk-makhluk kecil lucu ini tidak dapat tumbuh dewasa 😥

Dan di sanalah kami menikmati pemandangan laut dan matahari tenggelam. Menikmati pemandangan sambil mendengarkan deburan ombak semakin menyadarkan betapa kecilnya manusia dan betapa hebatnya yang sudah menciptakan semua keindahan dan kehebatan alam ini. How can you see places like this.. and have moments like this and not believe? Ah-maziing..

This slideshow requires JavaScript.

Jika beruntung, kita juga dapat menyaksikan penyu bertelur di malam hari. Orang-orang di penangkaran berbaik hati mau member kabar melalui ponsel jika penyu raksasa datang untuk bertelur. Sayangnya, karena diburu waktu, kami harus meneruskan perjalanan ke Bandung. I’ll be missing this moment, apalagi sekarang si Bos 1 udah ke Inggris dan Bos 2 sibuk kuliah. Tak mengapa, semoga nanti akan ada kesempatan lagi untuk berkunjung ke Ujung Genteng.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 22, 2012 by in journey and tagged , , , .
%d bloggers like this: