LIVE IT!

tidbits of my life

Warna-warni Sawarna (1)

Perjalanan ke Sawarna ini terbilang cukup ababil, karena hanya berselang satu jam dari saat saya mendaftarkan diri sebagai waiting list dan konfirmasi keikutsertaan saya diberikan. Terkadang butuh keberanian tanpa banyak pertimbangan (dan ketidakwarasan dalam kasus saya) untuk bisa melangkah lebih jauh, bukan? Kali ini, saya membawa seorang teman untuk ikut berpetualang.. yang sebenarnya susaaaaah banget buat diajak main 😀

Untuk menuju ke sana, bisa ditempuh dengan angkutan umum.. jika mempunyai banyak waktu. Kita harus naik bus jurusan Jakarta – Pelabuhan Ratu , turun di terminal Pelabuhan Ratu. Selanjutnya kita bisa menggunakan angkutan umum atau elf jurusan Sawarna. Sayangnya, elf ini jumlahnya sangat terbatas dan hanya beroperasi sampai kurang lebih pukul 16.00. Untuk trip kali ini, saya menggunakan elf bersama dengan teman-teman dari backpacker Indonesia..

Sabtu, 17 November 2012

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Begitulah yang kami alami selama perjalanan ini. Betapa tidak, saya, Austin, mba Tina, dan mba Enu (nama kedua teman baru kami mirip dengan nama teman kantor ternyata) duduk di 4 bangku elf paling belakang. Perjalanannya cukup panjang.. sekitar 7 jam. Menjelang subuh, sopirnya sangat buru-buru karena ingin mengejar sunrise.. ditambah dengan kondisi jalan yang tidak rata, akhirnya mengorbankan kepala dan hidung kami yang harus menderita karena benturan ke langit-langit mobil dan kursi depan kami. Alamak!!

Tetapi semuanya itu terbayar dengan pemandangan indah yang kami dapatkan. Homestay kami, yang namanya Andrew Batara, pas terletak di samping jembatan yang jadi salah satu ciri khas desa Sawarna. Jembatan yang membuat kami bergidik tiap kali berada di tengah-tengahnya. Posisi yang asyik karena bisa menikmati pemandangan jembatan, sawah, dan sungai di depan hidung kami.

Sesudah bersih-bersih di pagi hari, kami berjalan melalui sawah hijau dan aliran sungai sejauh kurang lebih 1 km menuju ke Goa Lalay. Sungguh pemandangan yang sehat untuk mata yang sudah terbiasa terpapar komputer ini. Goa terakhir yang saya masuki adalah goa di Tana Toraja, yang di dalamnya penuh kerangka manusia.. jadi goa masih punya citra seram di pikiran saya. Goa yang satu ini cukup dalam juga. Daari mulut goa sampai ke titik terakhir yang bisa dimasuki tanpa membungkuk juga penuh dengan air, mulai dari sematakaki sampai selutut. Pemandangan di dalamnya cukup bagus. Alih-alih kerangka manusia, di dalamnya saya temukan paduan stalaktit dan stalakmit yang indah. Bentuk-bentuk di dalamnya juga aneh-aneh.. dipahat oleh alam. Katanya kalau diikuti terus, goa ini bisa sampai ke Pelabuhan Ratu sana 😀

Dari remang-remang goa, kamipun beralih ke terangnya Pantai Ciantir. Pantai ini letaknya dekat dengan homestay kami. Dekat lah, cuma perlu menyeberang jembatan seram itu saja kok. Hiiiiii. Makin dekat dengan pantai, makin banyak homestay dan tentunya bule-bule yang memenfaatkan pantai ini untuk berselancar. Pantai yang ini kereeen! Saya bahkan masih bisa bilang begitu, padahal kami ke pantainya itu siang bolong. Jam 12 siang pas matahari lagi ada di atas kepala. Kulit boleh terbakar, kepala bisa pusing, tapi mata dan hati jadi plong melihat keindahan pantai di sini 😉

Dari Ciantir, kami kembali ke homestay untuk makan siang dan istirahat siang. Istirahat siang boi! Tadinya saya malas, karena sudah biasa tidak pernah tidur siang. Tapi ternyata ini bagian penting saudara-saudara. Bayangkan saja, sehabis makan, dengan perut kenyang, tiduran di hammock di bawah pohon kelapa, dengan semilir angin sepoi-sepoi, dan pemandangan sungai dan sawah di seberang sana. Wow! Feels like a real boss 😀

Puas dengan siesta, kamipun bersiap-siap ke Pantai Pulo Manuk untuk menyaksikan matahari terbenam. Pantai Pulo Manuk ini lebih besar daripada Ciantir. Bentangannya lebar dengan batuan karang dan perahu nelayan di tepiannya. Perfect place to catch the sunset!

Malamnya, hujan turun dengan cukup deras. Berada sedemikian jauh dengan orang-orang tercinta ditambah dengan orkestra musim hujan memang kombinasi sempurna untuk menciptakan rindu. Akan tetapi, rindu itu pun seakan terobati dengan tontonan horor film Thailand(yang entah kenapa ada Karen Mok-nya) dan tawa renyah para gadis di malam itu. Selamat tidur!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 29, 2012 by in journey and tagged , , , , , , .
%d bloggers like this: