LIVE IT!

tidbits of my life

Meet the Tandos

Bulan Februari 2014, saya akhirnya resign dengan penuh drama dari AHM dan mulai pendidikan di Pertamina. Entah kenapa memang hidup ini selalu penuh drama ya. Resign ini salah satu drama besar saya, dan tidak pernah menyangka kalau ini akan mengantarkan saya ke drama berikutnya.

Pendidikan di Pertamina ini membuat saya cukup terisolasi dari dunia luar, terutama dari teman-teman dan rekan kerja di AHM. Saya punya cukup banyak waktu untuk merenung (ya iyalah, tidur siang aja hampir tiap hari pas 3 bulan pertama). Saya juga harus melewatkan ulang tahun saya di PCU. Daan, seperti biasa Jury datang di malam ulang tahun saya. Sebelumnya, dia sudah bilang ngga bakal bisa datang.. tapi dari suaranya saja saya sudah tahu kalau dia pasti datang. I don’t know if it’s him who is being too predictable or just me who is being too used of him.

Sedang enak-enaknya makan, tiba-tiba Jury kembali menagih jawaban pertanyaan di bulan September itu. Glek, makanan pun ketelan tenpa terkunyah. Akhirnya, saya menjawab secara implisit bahwa saya lebih menginginkan dia untuk meminta izin kepada keluarga saya terlebih dahulu.

Kelulusan dan pengumuman penempatan BPS Pertamina dilakukan di hari yang sama. Lulus sih lulus tapi pas buka SK, ternyata saya ditempatkan di Balikpapan! Oh, such a drama. Tadinya Jakarta-Riau dan hanya perlu sekali penerbangan, sekarang jadi Riau-Balikpapan yang butuh minimal 2 kali penerbangan.

Jalan tersebut kemudian tidak membuat dia mundur. Pada saat saya pulang ke Makassar untuk cuti pendidikan selama seminggu, akhirnya Jury dan keluarganya datang untuk bertemu dengan keluarga saya. Semuanya serba buru-buru: milih baju seadanya, pesan makanan, menghubungi keluarga dekat.. everything’s done in just a week.

Hari itu saya malah masih sempat ke kondangan salah seorang teman SMA dulu, baru kemudian bisa leha-leha di rumah. Acaranya berlangsung serius tapi santai. Setelah kami berdua memperkenalkan diri ke keluarga masing-masing, Jury kemudian menanyakan kesediaan saya untuk menikah di hadapan seluruh anggota keluarga. Saya hanya mengangguk pelan untuk mengungkapkan kesediaan saya. Sebagai tanda mata, Jury memberikan sebuah kalung (katanya cincin udah terlalu mainstream dan dia trauma karena cincin yang dulu dia berikan malah saya hilangin).

Hari itu juga, keluarga berembuk tentang waktu yang dianggap tepat. Dari keluarga menyerahkan ke kami berdua, asalkan berada dalam range bulan Maret – Agustus 2015.  Saya sih cuma iya-iya saja, soalnya belum pengen mikir terlalu jauh. Yang penting acara hari itu selesai dulu deh. Pegel naah 😀

IMG_0303

courtesy of Tazaly Photo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 11, 2015 by in infinity, journey, wedding and tagged , , , .
%d bloggers like this: