LIVE IT!

tidbits of my life

Honeymoon Part 1: Si Kembar Bira dan Bara

Awalnya, saya dan Jury tidak merencanakan honeymoon sama sekali. Berhubung budget cukup membengkak, kita sih udah pasrah aja hidup miskin beberapa bulan. Tapi, puji Tuhan ada sedikit kelebihan rejeki yang bisa dimanfaatkan.. tambah lagi sahabat-sahabat kami ada yang khusus berkunjung ke Makassar untuk menghadiri undangan. Setelah berembuk, akhirnya kita putuskan untuk liburan bareng a.k.a honeymoon ke Tanjung Bira!

Tanggal 1 nikahan, tanggal 2 puter sana sini ngunjungin keluarga plus packing, tanggal 3 pagi kita bertujuh cabut ke Tanjung Bira, Bulukumba. Perjalanan ke Tanjung Bira memakan waktu sekitar 5 jam dari kota Makassar. Puji Tuhan, untuk transportasi disediakan oleh tantenya Stevie yang luar biasa baiknya. Ngga cuma dipinjemin mobil dan guide, kita juga dibekelin makanan yang enak-enak setelah dikasih sarapan lobster. Iya sih, sarapan pake omelette mungkin emang udah terlalu mainstream yak.

Selama di Tanjung Bira, saya sudah pesan 2 penginapan untuk 2 hari. Hari pertama di Amatoa Resort dan hari kedua di Mangga Lodge melalui booking.com.

Jalan ke Bira terhitung cukup mulus dan mudah untuk diingat karena luruuuuus terus. Sampai di Amatoa sekitar pukul 3 sore, kami langsung check in. Amatoa Resort hanya punya 7 kamar, jadi kalau peak season sih emang susah dapet kamar di sini. Saya hanya memesan 1 family room aja, pengennya sih semuanya bareng di 1 kamar biar rame. Kebijakan di Amatoa ternyata tidak mengizinkan lebih dari 5 orang dalam family room, bahkan dengan tambahan charge 250.000 rupiah seorang. Akhirnya kami pun memesan 1 kamar lagi, yang akhirnya dihuni saya dan Jury. Untuk 2 kamar ini, biaya yang dikenakan adalah 3,9juta rupiah. Lumayan mahal sih, tapi buat saya it’s all worth it.

Kamar saya dan Jury terletak di kamar nomor 6. Untuk yang mau honeymoon di Amatoa, please please please pick room number 6. Maksimal harganya 1,5jt dengan pemandangan ke laut yang luar biasa. Ada teras dan kamar mandi pribadi juga yang persis menghadap laut. Kamarnya sendiri cukup luas dengan ruang penyimpanan tersendiri. Tambah lagi, Mbak Amatoa nya ramahhh banget. Pokoknya ngga rugi deh nginep di sini walaupun emang lebih mahal dibanding tempat lain di sekitarnya.

Perjalanan kami sebelumnya di tahun 2013 ke Malaysia dan Singapore bisa dibilang cukup padat. Karena itu, perjalanan kali ini kami pengen lebih santai, leha-leha menikmati waktu. Siang dan malam kami makan bekal dari tante Tres, jadi ngga perlu keluar resort. Sore kita menikmati sunset dari tebing Amatoa. Malamnya, kami menikmati pemandangan bintang yang luar biasa. Sampai tengah malam kita main-main di family room, dari main UNO sampai akhirnya dikasih kado lagi sama Power Rangers.. so sweet.

Besok paginya, kita sempat berenang dulu di infinity pool-nya Amatoa. Saking berisiknya kita cekikian sambil selfie-selfie, bule yang kamarnya depan kolam sampe ngomong: “Could you please take selfie in silence?”. Kita bengong, trus pas doi lewat lanjut ketawa lagi hahaha. Habis sarapan, kita berangkat untuk snorkeling di daerah Pulau Liukang dan Pulau Kambing dengan kapal yang berangkat langsung dari dasar tebing Amatoa. Gelombang cukup kencang, sehingga butuh extra effort melawan arus pas snorkeling. Terumbu dan ikannya masih lumayan bagus juga. Di sekitar kami malah banyak bule-bule yang diving. Kami juga sempat singgah ke penangkaran penyu di dekat situ. Penyunya gedeeee tapi jinak banget. Pulang dari sana, kami lanjut pulang dan diturunkan di Pantai Bira. Akhirnya nginjak Pantai Bira juga hehe. Dari Bira ke Amatoa kami berjalan sekitar 200m, langsung mandi, packing, dan check out.Karena masih cape, akhirnya kami makan siang dulu di Amatoa. Beraaaat deh rasanya mau meninggalkan tempat yang satu inii.

Habis bye-bye sama Amatoa, kita pun melanjutkan perjalanan ke sebuah tempat bernama Apparalang. Apparalang letaknya sebelum Bira, jadi kita sempat keluar dari komplek Bira dulu. Setelah sempat nyasar2 dulu, akhirnya kami sampai juga. Awalnya agak kecewa karena ngerasa:”Segini doang nih?”. Tapi ternyata kita belom ngeliat lokasi utama Apparalang-nya. Pas ngeliat dan turun langsung ke tebingnya, baru deh berasa wooww.

Puasa dengan Apparalang, kita melanjutkan perjalanan ke Mangga Lodge di daerah Bara. Pantai Bara ini sebelahan sebenarnya sama Pantai Bira, tapi daerahnya lebih secluded dan private. Penginapan kami, Mangga Lodge, letaknya dekat sekali dengan pantai.. mungkin hanya butuh 20m berjalan saja. Sayangnya, penginapan ini emang ngga se-oke Amatoa. Harganya memang lebih murah.. sekitar 600rb per kamarnya. Kami akhirnya pesan 1 family room dan 1 standard room seperti di Amatoa dengan biaya setengah dari Amatoa. Kami akhirnya bisa menikmati sunset setelah ribut2 dulu sama Mbak Mangga Lodge. Pantai Bara berasa buat kita doang saking sepinya. Pasirnya halus, gradasi laut dan langitnya pun oke banget.

Malam berganti pagi, dan kami pun berkejar-kejaran ke pantai Bara. Pagi itu kami nikmati dengan santai: ada yang tiduran di pantai, baca buku, tulis-tulis di pasir, foto-foto, dll. Rasanya tidak percaya kalau besok kami sudah ada yang harus kembali bekerja. Kurang lebih pukul 10 pagi, kami check-out dan kembali ke Makassar. Ah, terimakasih Bira dan Bara yang memukau!

This slideshow requires JavaScript.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 21, 2015 by in travel, wedding and tagged , , , , , , , , , , .
%d bloggers like this: